Kamis, 04 Agustus 2016

Sastra Melayu Klasik, Sastra Daerah, dan Sastra Rakyat

BAB I
SASTRA MELAYU KLASIK
I.       Pengertian
Yang dimaksud dengan sastra melayu klasik adalah sastra yang hidup dan berkembang di daerah Melayu pada masa sebelum dan sesudah Islam hingga mendekati masa balai pustaka. Pada masa kesustraan Indonesia klasik, kesusastraan Indonesia diwarnai oleh kesusastraan masa purba, masa pengaruh hindu, dan pengaruh islam.  Karya yang tergolong kepada sastra klasik , yakni prosa, puisi lama, dan drama. (Agni, 2008:13) menjelaskan bahwa karya sastra klasik atau disebut juga sastra “melayu lama” pertama kali dihasilkan sebelum abad 20, atau sekitar 1870-an tepatnya. Pada era ini karya sastra yang dihasilkan kebanyakan masih berupa syair, hikayat, dan novel yang berupa terjemahan dari Barat. Seperti yang tertulis di Fiksi Lotus, Cerita klasik adalah cerita yang tak kenal batasan waktu. Ia bisa dinikmati sekarang atau seribu tahun dari sekarang. Isinya selalu relevan terlepas dari siapa yang membacanya atau di mana cerita itu diterbitkan. Dan secara keseluruhan cerita tersebut mampu memberikan nilai resonansi yang kuat bagi para pembacanya. Selain itu, kata ‘klasik’ tidak melulu mengacu pada umur sebuah karya. Cerita klasik bisa ditulis seratus tahun yang lalu, atau kemarin.

II.    Karakteristik
Karya sastra Melayu klasik merupakan cerminan karya sastra masyarakat lama yang berkembang dengan bahasa Melayu sampai abad ke-18. Sebagai cerminan masyarakat lama, karya sastra Melayu klasik, memiliki karakteristik, antara lain sebagai berikut : (1) Penyebarannya dilakukan secara lisan (oral), dari mulut ke mulut, (2)  Pengembangannya statis, perlahan-lahan, serta terbatas kepada kelompok-kelompok tertentu, (3) Pengarang umumnya tidak diketahui (anonim), (4) Berkembang dalam banyak versi akibat cara penyebarannya yang disampaikan secara lisan, (5) Ditandai ungkapan-ungkapan klise (formulazired). Misalnya, menggambarkan kecantikan seorang putri dengan ungkapan seperti bulan empat belas, menggambarkan kemarahan seorang tokoh dengan ungkapan seperti ulat berbelit-belit, (6)  Berfungsi kolektif yaitu sebagai media pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam, (7) Bersifat prologis, yakni mempunyai lokasi tersendiri yang tidak sesuai dengan logika umum, (8) Merupakan milik bersama dari kolektif tertentu, (9) Bersifat statis, artinya jumlah karya Melayu klasik tidak mengalami perkembangan, (10) Bersifat istana sentris, artinya bercerita tentang para bangsawan, dan dewa-dewa dan fantastik, (11) Cenderung dipengaruhi budaya Arab (Islam) dan Hindu. Satra Melayu klasik merupakan cerminan masyarakat lama. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam karya itu adalah cerminan kondisi masyarakat lama saat itu.
Ada nilai-nilai yang sering dimunculkan dalam sastra lama, antara lain (1) Nilai religius, yaitu nilai kepercayaan kepada Sang Maha Pencipta, (2) Nilai sosial, yaitu nilai yang mencerminkan norma-norma berinteraksi terhadap sesama, (3) Nilai moral (etika), yaitu nilai yang berkaitan dengan norma baik dan buruk yang berlaku dalam masyarakat, (4) Nilai estetis, yaitu nilai keindahan yang terungkap dalam bersastra, (5) Nilai budaya, yaitu nilai yang berkaitan dengan adat-istiadat dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat tertentu.
III.          Penggolongan Sastra Melayu Klasik
Menurut Nursito (2000:26), sastra Melayu Klasik tidak dapat digolongkan berdasarkan jangka waktu tertentu karena hasil karyanya tidak memperlihatkan waktu. Semua karya berupa milik bersama. Karena itu, penggolongan biasanya berdasarkan atas : bentuk, isi, dan pengaruh asing.
            Berdasarkan bentuknya,  karya sastra melayu klasik dapat digolongkan menjadi enam jenis. Keenam jenis tersebut adalah Nursito (2000:28):
1.            Gurindam, contohnya :
Pabila banyak mencela orang
Itulaah tanda dirinya kurang
2.            Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Salah satu hikayat yang populer di Riau adalah Yong Dolah.
 Salah satu halaman Hikayat Abdullah
3.        pantun
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
4.         Syair
Nursito, (2000:21), mengungkapkan bahwa syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat barisnya berturut-turut mempunyai hubungan logis. Syair berasal dari Arab.Penyair yang  terkenal dalam Sastra Melayu lama ialah Hamzah Fanzuri yang terkenal dengan syairnya yang berjudul ”Syair Perahu” yang mengandung mistik. Cerita berbentuk syair yang tertua ialah “Syair Ken Tambuhan” yang berasal dari cerita Panji. Contoh Syair: Syair Bidasari.
5.    Bidal
Bidal adalah jenis puisi lama berbentuk pepatah yang mengandung nasehat, peringatan dan sindiran. Susunan kata pada bidal tidak dapat diubah.  bidal  digunakan untuk menyampaikan sesuatu secara tersamar, atau dengan jalan yang sehalus-halusnya. Jenis-jenis bidal adalah peribahasa, pepatah, perumpamaan, tamzil, ibarat, dan pameo.
6.        Mantra
Mantra, yaitu jenis puisi lama berupa bacaan atau perkataan dan mendatangkan daya magis (kekuatan gaib).  Mantra termasuk jenis karya sastra lisan. Biaasanya digunakan untuk keperluan penyembuhan, mendatangkan kebinasaan, mengusir roh jahat, dan menumbuhkan keberanian.

BAB II
SASTRA DAERAH

I.          PENGERTIAN
Sastra Daerah adalah sastra yang menggunakan media bahasa daerah dan mencerminkan budaya daerah. Menurut Djamaris Edwar (1994:15) dalam kedudukanya sebagai sastra daerah, sastra nusantara mencerminkan suatu nilai budaya yang dianut atau yang diemban oleh pendukung bahasa daerah tersebut.
II.       KARAKTERISTIK
Adapun ciri-ciri karya sastra daerah adalah, (1) Penyebaran dari mulut ke mulut, (2) Lahir di dalam masyarakat yang masih bercorak desa atau belum mengenal huruf, (3) Menggambarkan ciri budaya suatau masyarakat, (4) Tidak deketahui siapa pengarangnya, (4) Bercorak puitis,teratur dan berulang-ulang, (5) Tidak mementingkan fakta dan kebenaran, (6) Terdiri dari beberapa versi, (7) Umumnya menggunakan bahasa lisan ( sehari – hari),mengandung dialek, bahkan kadang – kadang diucapkan tidak lengkap (Hutomo, 1991 : 3-4).
III.    PENGGOLONGAN SASTRA DAERAH
Kekayaan akan sastra daerah itu juga bukan hanya ditandai dengan banyaknya nama, jenis dan bentuk sastra itu, melainkan juga ditandai oleh keberagaman isi kandungan makna disetiap sastra daerah. keberagaman isi meliputi, nilai-nilai budaya yang sampai sekarang dirasakan tingkat urgensinya masih tinggi, seperti nilai cinta kasih, tanggung jawab dan pengabdian serta gotong royong. Disamping berisi mengenai pandangan hidup, sistem kepercayaan dan ajaran moral juga terkandung di dalamnya.
Adapun contoh  sastra daerah dari  Sumatra, antara lain ( 1) Si Mugan, Asal Usul Gajah Putih, Amat Rhang Manyang  dan Pawang Rusa dengan Jasanya dari Aceh, (2) Puisi Andung-Andung, Tonggo-Tonggo, Tabas, dan Umpasa, serta Opera Batak dari Sumatera Utara, (3) Cindua Mato, Si Buyung Bagala Rancak di  Lubuah, Kaba Malin Deman, Hikayat Puti Balukih dari Sumatera Barat, (4) Si Lancang dan Tokong Si Culan dari Riau, (5) Terjadi Sumur Putri, Si Pahit Lidah dari Lampung.
IV.    PEMBAHASAN
Sastra daerah mempunyai kedudukan sebagai berikut :
a.       Sastra daerah adalah ciptaan masyarakat pada masa lampau atau mendahului penciptaan sastra Indonesia modern.
b.      Sastra daerah dapat dimasukkan sebagai satu aspek budaya Indonesia yang perlu digali untuk memperkaya budaya nasional dan menjadi alternatif kedua yang perlu di pertimbangkan dan dikembangkan selain sastra Indonesia.
c.       Sastra daerah melekat pada jiwa, rohani, kepercayaan, dan adat istiadat masyarakat suatu suku bangsa dan yang mereka pakai untuk menyampaikan nilai – nilai luhur bagi generasi muda.
d.      Sastra daerah mempunyai kedudukan yang strategis dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia,yaitu memperkuat kepribadian keindonesiaan yang bhineka tunggal ika.

BAB III
SASTRA RAKYAT
I.             PENGERTIAN

Sastra rakyat ialah kesusastraan yang lahir dikalangan rakyat. Pada lazimnya, sastra rakyat merujuk kepada kesusastraan rakyat dari pada masa lampau, yang telah menjadi warisan suatu masyarakat. Sastra rakyat adalah sebagian kehidupan budaya bagi masyarakat lama.

II.          KARAKTERISTIK

Sifat cerita rakyat adalah, (a) Disampaikan secara lisan. Satu sifat sastra rakyat yang utama terletak pada cara penyampaiannya. Pada lazimnya sastra rakyat disampaikan melalui pertuturan. Ia dituturkan secara individu kepada indivdu yang lain atau sekumpulan individu yang lain. Misalnya seorang datuk akan menuturkan suatu cerita kepada seorang bapak, seterusnya dari seorang bapak dituturkan kepada seorang cucu. Selain itu, ia juga disampaikan oleh seorang yang profesional, yang kerjanya "bercerita" kepada anggota masyarakat yang lain. Dalam masyarakat melayu, profesional ini dikenali sebagi "tok cerita" ataupun "pawang", yang telah menghafal cerita-cerita tertentu daripada seorang guru, untuk menyampaikan cerita dengan cara yang menarik kepada orang kampung, untuk  menghiburkan orang kampung yang berkenaan. (b) Seringkali kali mengalami perubahan. Sastra rakyat merupakan suatu yang dinamik, di mana ia akan mengalami pokok tambah ataupun , menurut peredaran zaman. Kita bisa menjumpai berbagai variasi untuk suatu cerita rakyat di tempat yang berlain. Malahan, bagi seorang tok cerita, beliau mungkin akan melakukan perbuahan ke atas ceritanya secara spontan, saat menyampaikan cerita.

III.             PENGGOLONGAN
Cerita rakyat adalah cerita zaman dahulu yang hidup di masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun atau secara lisan dan berkembang dalam masyarakat. Cerita rakyat dibedakan menjadi,
1.   Legenda
Legenda merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Contoh, Cerita Si Malin Kundang, Gunung Tangkuban Perahu, Dongeng Banyuwangi, Dongeng Gunung Batok,Dongeng Rawa pening, dan sebagainya.
2.   Sage
Sage merupakan cerita rakyat yang didasarkan peristiwa sejarah yang sudah bercampur dengan fantasi rakyat. Contoh : Hikayat Hang Tuah, Syariah Melayu, Ciungwanana, dan sebagainya.
3.   Mite
Mite merupakan cerita rakyat yang didasarkan peristiwa atau kejadian dikalangan rakyat yang berdasarkan pada kepercayaan lama, terutama yang berhubungan dengan dewa-dewi, roh halus, atau kekuatan gaib. Contoh : Nyi Roro Kidul, Jaka Tarub, dan sebagainya.
4.   Fabel
Fabel merupakan cerita rakyat yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang. Contoh : Cerita Kancil yang Cerdik, Hikayat Kalila dan Durina, Hikayat Bayan Budiman, dan sebagainya.
5.   Paralel
Paralel merupakan cerita rakyat yang tokohnya adalah manusia dan hewan. Contoh : Anjing yang Loba, Semut dan belalang, Hikayat mahabrata, Hikayat Ramayana, dan sebagainya.
6.   Cerita lucu
Cerita lucu merupakan cerita rakyat yang berisikan kisah lucu atau jenaka.Contoh : Cerita Pak Kodok, Cerita Pak Belalang, Cerita Pak Pander, Cerita Lebai Malang dan sebagainya.
7.   Hikayat
Hikayat  adalah salah satu bentuk sastra karya prosa lama yang isinya berupa cerita, kisah, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kepahlawanan seseorang, lengkap dengan keanehan, kekuatan/ kesaktian, dan mukjizat sang tokoh utama.

IV.       PEMBAHASAN

              Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat merupakan cerita zaman dahulu dan di wariskan kepada  masyarakat secara  turun temurun. Salah satu sifat sastra rakyat yang utama terletak pada cara penyampaiannya. Pada lazimnya sastra rakyat disampaikan melalui pertuturan. Ia dituturkan secara individu kepada  indivdu yang lain atau sekumpulan individu yang lain. Misalnya seorang datuk akan menuturkan suatu cerita kepada seorang bapak, seterusnya dari seorang bapak dituturkan kepada seorang cucu. Selain itu, ia juga disampaikan oleh seorang yang profesional, yang kerjanya "bercerita" kepada anggota masyarakat yang lain. Dalam masyarakat melayu, profesion ini dikenali sebagai "tok cerita" ataupun "pawang", yang telah menghafal cerita-cerita tertentu daripada seorang guru, untuk menyampaikan cerita dengan cara yang menarik kepada orang kampung, untuk menghibur orang kampung yang berkenan.

By. Tia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar