Pertanyaan
dan Jawaban Tentang Pembelajaran Bahasa Indonesia
Oleh
: Fitria Novita, M.Pd.
(Tia)
1.
Bagaimana
mengintegrasikan struktur bahasa, kosakata, ejaan, dan tanda baca dalam
pembelajaran keterampilan berbahasa terutama menulis?
Pembelajaran
masing-masing komponen tersebut terintegrasi langsung dalam pembelajaran
menulis. Untuk kelas bawah, ( 1 dan 2 SD) ketika guru mengajarkan menulis kalimat, sekaligus ia
mengajarkan tentang struktur bahasa, kosakata,
ejaan, dan bagaimana cara menggunakan tanda baca , seperti titik,koma,dan tanda
tanya yang tepat. Hal itu disebabkan karena kalimat itu terdiri dari gabungan
beberapa buah kata yang mengandung pengertian, diawali dengan huruf kapital dan
diakhiri oleh tanda baca. Siswa ditunjukkan langsung bagaimana penulisan
kalimat yang tepat. Siswa dituntut menggunakan kata yang berfariasi, seperti
penggunaan sinonim, antonim, dll dalam kalimat.
2.
Teknik
mendengarkan yang mengandung upaya peningkatan keterampilan mendengarkan adalah:
Teknik pengajaran menyimak dapat
dilakukan secara variatif, untuk menghindari kesan yang monoton dan menjadikan pembelajaran lebih menarik bagi siswa.
Adapun beberapa teknik menyimak yang dapat digunakan guru dalam proses belajar
mengajar di Sekolah Dasar, di antaranya adalah sebagai berikut.
a.
Teknik
Ulang-Ucap (Menirukan)
Teknik ini biasa digunakan guru pada
siswa yang belajar bahasa permulaan, baik belajar bahasa ibu maupun bahasa
asing. Teknik ini digunakan untuk memperkenalkan bunyi bahasa dengan dengan
pengucapan atau lafal yang tepat dan jelas oleh guru. Contohnya, guru
mengucapkan kata-kata yang sederhana, seperti ‘mata’, kemudian guru memperjelas
kata tersebut dengan cara mendemonstrasikannya. Guru menggunakan jari tangannya
untuk menunjuk salah satu bagian wajahnya, yaitu mata. Langkah kedua, guru
mengucapkan kata mata dengan jelas dan keras, siswa diminta menyimaknya dengan
baik, kemudian menirukan apa yang diucapkan guru. Langkah ketiga, guru
memberikan latihan ekstensif dengan mengulang kata-kata yang sudah dikenalkan,
kemudian menambah kosa kata serta mengenalkan struktur kalimat kepada siswa
sampai siswa dapat mengucapkan kata-kata dengan tepat, dan akhirnya menggunakan
kata itu dalam struktur yang sederhana.
b.
Teknik
Informasi Beranting
Guru memberi informasi kepada salah
seorang siswa kemudian informasi tersebut disampaikan kepada siswa di dekatnya,
begitu seterusnya. Informasi disampaikan secara beranting. Siswa yang menerima
informasi terakhir, mengucapkan keras-keras informasi tersebut di hadapan
teman-temannya. Dengan demikian, kita tahu apakah informasi itu tetap sama
dengan sumber pertama atau tidak. Jika tetap sama, berarti daya simak siswa
sudah cukup baik, akan tetapi, bila informasi pertama berubah setelah
beranting, ini berarti daya simak siswa masih kurang. Contoh kalimatnya, Andi membeli mie bersama Rani tadi pagi.
c.
Teknik
Satu Mulut Satu Kelas
Guru membacakan sebuah wacana yang
dapat berupa artikel atau cerita di hadapan siswa, dan siswa diminta menyimak
baik-baik. Sebelum siswa menyimak, guru memberi penjelasan tentang apa-apa yang
pernah disimak. Setelah guru selesai membacakan, guru dapat meminta siswa,
misalnya:
§ menceritakan kembali isi
materi yang disimaknya;
§ menyebutkan urutan ide pokok dari apa yang
disimak;
§ menyebutkan tokoh atau pelaku cerita dari apa
yang disimaknya;
§ menemukan makna yang tersurat dari apa yang disimaknya;
§ menemukan makna yang tersirat dari apa yang
disimaknya;
§ menilai isi dari apa yang disimaknya.
Pertanyaan-pertanyaan yang
disampaikan guru kepada siswa tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan yang
telah dirumuskan. Dalam penggunaan teknik ini, guru dituntut untuk dapat
membaca dengan baik sesuai dengan jenis wacana yang dibacanya. Oleh karena itu,
guru perlu menyiapkan benar-benar bahan bacaan dan cara membacanya, jangan
sampai siswa mengalami kesulitan memahami isi yang disimaknya hanya karena
pembacaan yang kurang siap.
d.
Teknik
Satu Rekaman Satu Kelas
Guru terlebih dahulu menyiapkan
rekaman melalui kaset (tape recorder),
CD, ataupun laptop yang berisi ceramah, pembacaan puisi, pidato,
cerita/dongeng, drama, dan sebagainya. Kemudian guru memberi petunjuk-petunjuk
sebelum kaset diputar tentang hal-hal yang perlu disimak. Setelah itu guru
memutar rekaman yang telah disiapkan sebelumnya (dongeng, misalnya). Siswa
diminta menyimak baik-baik. Rekaman dapat diputar ulang bila siswa belum dapat
mengikuti tentang apa yang diputar. Kemudian siswa diberikan tugas menjawab
pertanyaan-pertanyaan untuk menguji pemahamannya terhadap rekaman yang
disimaknya, seperti:
§ Apa tema dari dongeng yang kamu
simak?
§ Siapa yang menjadi tokoh dalam
dongeng tersebut?
§ Bagaimana watak dari tokoh tersebut?
§ Sebutkan amanat yang terdapat dalam
dongeng tersebut!
§ dan lain-lain.
e.
Teknik
Group Cloze
Dalam penggunaan teknik ini, guru
membacakan satu kali sebuah wacana, siswa diminta menyimak baik-baik. Kemudian,
guru membacakan lagi wacana tersebut dengan cara membaca penuh awal paragraf,
sedangkan paragraf berikutnya ada beberapa kata atau kelompok kata yang
dihilangkan. Setelah itu, tugas siswa adalah memikirkan konteks wacana dan
mengisi tempat yang kosong dengan kata-kata atau peristilahan atau kelompok
kata yang asli dari wacana yang dibacakan sebelumnya.
f.
Teknik
Parafrase
Dalam penggunaan teknik ini, guru
terlebih dahulu menyiapkan sebuah puisi untuk disimak oleh siswa. Setelah itu,
guru membacakan puisi yang telah disiapkan dengan jelas. Kemudian setelah siswa
selesai menyimak, siswa secara bergiliran disuruh menceritakan kembali isi
puisi yang telah disimaknya dengan kata-kata sendiri. Dalam menerapkan teknik
ini, guru harus menyesuaikan dengan perkembangan kebahasaan siswa, agar dalam
pelaksanaannya dapat berjalan sesuai tujuan.
g.
Teknik
Simak Libat Cakap
Sesuai dengan nama teknik ini,
penyimak terlibat dalam pembicaraan. Dalam pelaksanaan teknik ini guru dapat
menugaskan siswa mengadakan wawancara, misalnya dengan guru wali, guru pengajar
bahasa Bali, budayawan. Sebelum mengadakan wawancara, siswa diminta menyiapkan
apa yang perlu ditanyakan kepada orang yang diwawancarai. Tugas selanjutnya
siswa menyusun hasil wawancara yang kemudian diserahkan kepada guru untuk
teliti.
h.
Teknik
Simak Bebas Libat Cakap
Teknik ini senada dengan teknik
simak libat cakap yang mementingkan keterlibatan penyimak dalam pembicaraan.
Penyimak di sini hanya berlaku sebagai pemerhati yang penuh minat, tekun
menyimak apa yang disampaikan oleh pembicara sehingga penyimak dapat memahami
isi pembicaraan, tujuan pembicaraan, menganalisis apa yang dibicarakan, serta
akhirnya menilai isi pembicaraan.
Kedelapan teknik menyimak di atas bisa
digunakan guru untuk meningkatkan kemampuan menyimak siswa. Penggunaan teknik
tersebut harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Guru harus jeli dan terampil
dalam menggunakan teknik pembelajaran agar hasil pembelajaran maksimal.
Aspek
menyimak yang dapat meningkatkan kemampuan menyimak siswa adalah;
1. Guru
mempersiapkan siswa untuk fokus mendengarkan.
2. Siswa
membuat catatan-catatan kecil sehubungan dengan teks yang akan dibacakan guru.
3. Siswa
mendiskusikan/mengaitkannya dengan pengalaman.
3.
Perancah atau Scaffolding
Teori Vygotsky
menyatakan bahwa setiap siswa mempunyai daerah yang
membatasi tahap perkembangannya. Dengan memberikan rangsangan berupa tugas
yang berada di luar daerah perkembangannya, maka siswa akan merasa tertantang
untuk menyelesaikan tugas tersebut sehingga perkembangannya akan bertambah.
Daerah yang berada sedikit di atas perkembangan siswa tersebut disebut Zone of
Proximal Development (ZPD). Ide penting lain yang diturunkan dari teori Vygotsky
adalah scaffolding. Scaffolding diartikan ke dalam bahasa Indonesia “perancah”, yaitu bambu (balok dsb) yang dipasang untuk tumpuan ketika hendak mendirikan rumah, membuat tembok, dan sebagainya (Poerwadarminta, 1983; 735).
membatasi tahap perkembangannya. Dengan memberikan rangsangan berupa tugas
yang berada di luar daerah perkembangannya, maka siswa akan merasa tertantang
untuk menyelesaikan tugas tersebut sehingga perkembangannya akan bertambah.
Daerah yang berada sedikit di atas perkembangan siswa tersebut disebut Zone of
Proximal Development (ZPD). Ide penting lain yang diturunkan dari teori Vygotsky
adalah scaffolding. Scaffolding diartikan ke dalam bahasa Indonesia “perancah”, yaitu bambu (balok dsb) yang dipasang untuk tumpuan ketika hendak mendirikan rumah, membuat tembok, dan sebagainya (Poerwadarminta, 1983; 735).
Perancah (scaffolding) dalam konteks pembelajaran berarti bimbingan yang
diberikan oleh seorang pembelajar kepada peserta didik dalam proses
pembelajaran dengan persoalan-persoalan terfokus dan interaksi yang bersifat
positif. Prinsip-prinsip konstruktivis sosial dengan pendekatan scaffolding
yang diterapkan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Pengetahuan
dibangun oleh peserta didik sendiri.
b. Pengetahuan
tidak dapat dipindahkan dari pembelajar ke peserta didik, kecuali hanya dengan
keaktifan peserta didik sendiri untuk menalar.
c. Peserta
didik aktif mengkontruksi secara terus-menerus, sehingga selalu terjadi
perubahan konsep ilmiah.
d. Pembelajar
sekedar memberi bantuan dan menyediakan saran serta situasi agar proses
kontruksi belajar lancar.
e. Menghadapi
masalah yang relevan dengan peserta didik.
f. Struktur
pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
g. Mencari
dan menilai pendapat peserta didik.
h. Menyesuaikan
kurikulum untuk menanggapi anggapan peserta didik.
Berdasarkan fakta yang saya temui di
lapangan, tidak ada scaffold yang
tersedia di dalam ruang kelas, namun sebagai guru, kita harus menyediakan alat
peraga atau media dalam mengajar. Sesuai dengan kondisi sekolah pada saat ini scaffolds yang mungkin dibuat adalah
tabel sinonim atau antonim, contoh surat resmi dan tidak resmi, contoh puisi,
pidato, dan lain-lain. Merancang scaffolds
sebaiknya disesuaikan dengan SK dan KD yang akan diajarkan pada semester
yang akan berjalan. Menurut saya, scaffolds
yang perlu dibangun adalah daftar kosakata, lemari kecil yang berisi bahan
bacaan sastra, nonfiksi, dan bacaan umum.
4.
Aspek pengelolaan kelas yang sangat
penting dikuasai oleh seorang pendidik adalah:
Peran seorang
guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana
pembelajaran yang menarik. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan
usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga
proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi
tercapainya tujuan pembelajaran. Kegagalan seorang guru mencapai tujuan
pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas.
Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak
sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena itu,
pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai dalam
rangka proses pembelajaran. Karena itu setiap guru dituntut memiliki kemampuan dalam
mengelola kelas.
Pengelolaan kelas akan mempengaruhi
pengelolaan pengajaran. Pengelolaan yang efektif merupakan prasyarat mutlak
bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif. Pengelolaan kelas
menunjuk kepada pengaturan orang (terutama peserta didik) maupun pengaturan
fasilitas. Seperti membina hubungan baik antara guru dan siswa dan antara siswa
dengan siswa, ventilasi ,penerangan ,tempat duduk, perencanaan program belajar
mengajar yang tepat. Dalam melaksanakan pengelolaan kelas guru harus
melaksanakan prinsip- prinsip pengelolaan kelas yaitu : kehangaan dan keantusiasan
,tantangan , bervariasi, keluwesan ,penekanan pada hal-hal yang positif dan
penanaman disiplin diri .
Manajemen
kelas harus dilakukan oleh guru guna memberikan dukungan terhadap keberhasilan
belajar anak. Keberhasilan dalam pembelajaran akan ditentukan oleh seberapa
mampu guru dalam memfasilitasi anak dengan kegiatan manajerial terhadap kelas,
keberhasilan dalam memanage kelas
yang dilakukan guru harus melihat aspek dalam kelas. Aspek-aspek yang perlu
diperhatikan dalam manajemen kelas yang baik adalah meliputi:
1.
sifat kelas,
2.
pendorong kekuatan kelas,
3.
situasi kelas,
4.
tindakan efektif dan kreatif.
5.
Metode
inovatif dalam pembelajaran bahasa, antara lain:
a.
MetodeLangsung
atau Direct Method
·
Konsep Dasarnya
Direct artinya langsung. Direct Method
atau metode langsung yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran bahasa asing
dimana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa
pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikitpun dalam mengajar.
Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat
mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemonstrasikan, menggambarkan
dan lain-lain.
Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran
bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu pasti, alam. Jika
mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat menghafal rumus-rumus tertentu,
berpikir dan mengingat, maka dalam pengajaran bahasa, siswa dilatih praktik langsung
mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Sekalipun kata-kata atau
kalimat-kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami siswa, namun sedikit
demi sedikit kata-kata dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula
mengartikannya.
Ciri-ciri metode ini adalah :
1.
Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata,
kemudian struktur kalimat.
2.
Gramatika diajarkan hanya bersifat sambil lalu, dan
siswa tidak dituntut menghafal rumus-rumus gramatika, tapi yang utama adalah
siswa mampu mengucapkan bahasa secara baik.
3.
Dalam proses pengajaran senantiasa menggunakan alat
bantu (alat peraga) baik berupa alat peraga langsung, tidak langsung (benda
tiruan) maupun peragaan melalui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu.
4.
Setelah masuk kelas, siswa dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap
dalam bahasa asing, dan dilarang menggunakan bahasa lain.
·
Peranan
Pendidik dan Peserta Didik
Meskipun guru
mengarahkan aktivitas di kelas, peran siswa lebih aktif dibandingkan peran mereka
dalam metode tata bahasa terjemah. Dalam metode ini, guru dan siswa seperti
mitra dalam pembelajaran, di samping berfungsi sebagai seorang mitra, guru juga adalah seorang
fasilitator, ia menunjukkan kepada para siswa apa kesalahan yang mereka lakukan
dan bagaimana cara mengoreksi kesalahan tersebut.
Interaksi kelas
pembelajaran berasal dari kedua belah pihak, dari guru kepada para siswa dan
sebaliknya, dari siswa kepada guru, meskipun inisiasi dari siswa sering berada
dalam pengarahan guru. Para siswa juga berbicara antara yang satu dengan yang
lain.
Evaluasi dalam
metode langsung dilakukan lebih banyak secara informal, para siswa diminta
untuk menggunakan bahasa, bukan untuk menunjukkan pengetahuan mereka sekitar
bahasa. Mereka diminta untuk melakukannya baik dengan keterampilan lisan maupun
tulisan. Sebagai contoh, para siswa bisa jadi diwawancarai secara lisan oleh
guru atau boleh jadi diminta untuk menulis suatu alinia tentang sesuatu yang
sudah mereka pelajari.
·
Pengembangan
Materi
Dalam metode langsung penggunaan bahasa ibu sangat
dihindari. Oleh karena itu, materi disusun sedemikian rupa sehingga
memungkinkan guru melakukan paragaan dan penunjukan langsung benda asli, gambar
atau model (tiruan benda) ketika mengenalkan struktur kalimat yang baru.
Metode langsung ini turut mempersiapkan pengetahuan bahasa yang bermanfaat
dalam ujaran dalam konteks.
·
Langkah-Langkah Kegiatan
Langkah-langkah penyajian dalam metode ini bisa
bervariasi, namun secara umum adalah sebagai berikut:
1.
Guru memulai penyajian materi secara
lisan, mengucapkan satu kata dengan menunjuk bendanya atau gambar benda itu,
meragakan sebuah gerakan atau mimik wajah. Pelajar menirukan berkali-kali
sampai benar pelafalannya dan faham maknanya.
2.
Latihan berikutnya berupa tanya jawab dengan kata
tanya apa,
siapa, mengapa, dan sebagainya, sesuai dengan tingkat kesulitan
pelajaran, berkaitan dengan kata-kata yang telah disajikan. Model interaksi
bervariasi, biasanya dimulai dengan klasikal, kemudian berkelompok dan
akhirnya individual, baik guru maupun siswa.
3.
Setelah guru yakin bahwa siswa
menguasai materi yang disajikan, baik dalam pelafalan maupun pemahaman makna,
siswa diminta membuka buku teks. Guru memberikan contoh bacaan yang benar
kemudian siswa diminta membaca secara bergantian.
4.
Kegiatan berikutnya adalah menjawab
secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada dalam buku, dilanjutkan dengan
mengerjakannya secara tertulis.
5.
Bacaaan umum yang sesuai dengan
tingkatan siswa diberikan sebagai tambahan, misalnya berupa cerita humor, cerita yang mengandung
hikmah, dan bacaan yang mengandung ungkapan-ungkapan indah. Karena pendek dan
menarik, biasanya siswa menghafanya di luar kepala.
6.
Tatabahasa diberikan pada tingkat
tertentu secara induktif.
7.
Siswa didorong untuk berani berbicara, tidak perlu takut salah.
b.
Metode
Audiolingual
·
konsep
dasarnya:
Metode ini
didasarkan pada prinsip-prinsip perilaku psikologi. Metode ini banyak diadaptasi
dari prosedur Direct Method sebagai
reaksi terhadap kurangnya keterampilan berbahasa. Materi baru disajikan dalam
bentuk dialog. Berdasarkan prinsip bahwa pembelajaran bahasa adalah suatu
bentuk kebiasaan dan peniruan.
Alur
pembelajaran dengan “Metode Audiolingual,” secara bertahap menggunakan
pola latihan berulang atau repetitif
drills, sedikit penjelasan tentang tatabahasa (tata bahasa diajarkan secara
induktif).
Urutan
keterampilan berbahasa yang diajarkan adalah mendengar, berbicara, membaca dan
menulis. Kosakata sederhana dipelajari dalam suatu konteks. Poin pengajaran
ditentukan oleh adanya analisis antara B1 dan B2. Terdapat banyak penggunaan
laboratorium bahasa, kaset dan alat. Ada perpanjangan periode pra-membaca di
awal pelatihan. Sangat mementingkan pronounsiasi.
Penggunaan bahasa ibu oleh pengajar diperbolehkan agar memudahkan pembelajar.
Ketepatan tanggapan pembelajar sangat diperhatikan untuk menghindari kesalahan.
Ada kecenderungan untuk terlalu berfokus pada bahasa target dengan mengabaikan
isi dan makna kebahasaan.
Istilah
audio-lingualisme pertama-tama dikemukakan oleh Prof. Nelson Brooks pada tahun
1964. Metode ini mengklaim sebagai metode yang paling efektif dan efisien dalam
pembelajaran bahasa asing dan menyatakan sebagai metode yang telah mengubah
pengajaran bahasa dari hanya sebuah metode keilmuan bahasa. Audio-Lingual
Method (ALM) merupakan hasil kombinasi pandangan dan prinsip-prinsip Linguistik
Struktural, Analisis Kontrastif, pendekatan Aural-Oral, dan psikologi
Behavioristik. Dasar pemikiran ALM mengenai bahasa, pengajaran, dan
pembelajaran bahasa adalah sebagai berikut:
1.
Bahasa
adalah lisan, bukan tulisan
2.
Bahasa
adalah seperangkat kebiasaan
3.
Ajarkan
bahasa dan bukan tentang bahasa
4.
Bahasa
adalah seperti yang diucapkan oleh penutur asli
5.
Bahasa
satu dengan yang lainnya itu berbeda
·
Peranan
Pendidik dan Peserta Didik
Peran guru sangat dominan karena gurulah yang memilih bentuk
stimulus, memberikan punishment dan reward, memberikan penguatan dan menentukan
jenisnya, dan guru juga yang memilih materi, dan cara mengajarkannya. Pengucapan
(pronunciation), susunan serta aspek-aspek lain antara bahasa asing dan
bahasa ibu sangatlah berbeda. Oleh karenanya, dalam pembelajaran bahasa asing
(dalam hal ini bahasa Inggris) para siswa diharuskan mengucapkan dan atau
membaca berulang-ulang kata demi kata yang diberikan oleh guru agar sebisa
mungkin tidak terpengaruh dengan bahasa ibu. Adapun peranan guru dan murid
dalam metode ini adalah :
Kegiatan
Guru.
1. Menjadi model pada semua
tahapan pembelajaran.
2. Menggunakan bahasa target sebanyak
mungkin dan bahasa ibu sedikit mungkin.
3. Melatih ketrampilan menyimak dan
berbicara siswa tanpa didahului bahasa tulis.
4. Mengajarkan struktur melalui latihan
pola bunyi, urutan, bentuk-bentuk, dan bukan melalui penjelasan.
5. Memberikan bentuk-bentuk tulis
bahasa target setelah bunyi-bunyi benar-benar dikuasai siswa.
6. Meminimalkan pemberian kosakata
kepada siswa sebelum semua struktur umum dikuasai.
7. Mengajarkan kosakata dalam konteks.
Kegiatan
Siswa
1.
Mendengarkan
sebuah percakapan sebagai model (guru atau kaset) yang berisi struktur kunci
yang menjadi fokus pembelajaran, mereka mengulangi setiap baris percakapan
tersebut secara individu maupun bersama-sama, menghafalkannya dan
siswa tidak melihat buku.
2.
Mengganti
dialog dengan setting tempat atau yang lainnya sesuai dengan selera siswa.
3.
Berlatih
struktur kunci dari percakapan secara bersama-sama dan kemudian secara individual.
4.
Mengacu
ke buku teks dan menindaklanjuti dengan kegiatan membaca, menulis atau kosakata
yang berdasarkan percakapan yang ada, menulis dimulai dalam bentuk
kegiatan menyalin.
·
Pengembangan
Materinya
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya metode ini
memberikan perhatian utama kepada kegiatan latihan, drill, menghafal kosa kata,
dialog, teks bacaan, dan pada sisi lain lebih mengutamakan bentuk luar bahasa
(pola, struktur, kaidah) dari pada kandungan isinya, dan mengutamakan kesahihan
dan akurasi dari kemampuan siswa untuk berinteraksi dan berkomunikasi.
Penerapan metode ini hampir sama dengan penerapan pengajaran
bahasa pertama pada anak-anak, anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui
peniruan. Peniruan itu biasanya diikuti oleh pujian atau perbaikan. Melalui
kegiatan itulah anak-anak mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur, pola
kebiasaan bahasa ibunya. Maka hal yang sama juga dapat diberlakukan dalam
pengajaran bahasa kedua atau bahasa asing. Melalui cara peniruan dan penguatan,
para siswa mengidentifikasi hubungan antara stimulus dan responsi yang
merupakan kebiasaan dalam berbahasa kedua atau bahasa asing.
·
Langkah-Langkah
Kegiatannya:
1. Penyajian teks dialog atau teks
pendek yang dibacakan guru berulang-ulang dan siswa menyimak tanpa melihat teks
yang dibaca.
2. Peniruan dan penghafalan teks itu
secara serentak dan siswa menghafalkannya.
3. Penyajian kalimat dilatih dengan pengulangan.
4. Dramatisasi dialog atau teks yang
dilatihkan kemudian siswa memperagakan di depan kelas.
5. Pembentukan kalimat lain yang sesuai
dengan yang dilatihkan.
c.
Natural Method atau Metode Alamiah
·
Konsep Dasarnya
Metode Alamiah (Natural Method) disebut demikian karena
dalam proses belajar, siswa dibawa ke alam seperti halnya pelajaran bahasa ibu
sendiri. Dalam pelaksanakannya, metode ini tidak jauh berbeda dengan metode
lengsung (direct) dimana guru
menyajikan materi pelajaran langsung dalam bahasa asing tanpa diterjemahkan
sedikitpun, kecuali dalam hal- hal tertentu di mana kamus dan bahasa anak didik
dapat digunakan.
·
Peranan
Pendidik dan Peserta Didik
Pada umumnya, anak didik dan guru bersikap
tradisional mengutamakan gramatika lebih dahulu daripada membaca dan percakapan
sesuatu hal yang salah secara ilmiah yang amat perlu diubah. Guru yang kurang
memiliki kemampuan dan pengalaman praktis dalam berbahasa asing merupakan faktor
sulitnya diterapkan dan berhasil secara baik metode tersebut. Guru haruslah
seorang yang aktif berbicara di dalam bahasa asing tersebut barulah murid-
muridnya akan mampu pula aktif di dalam belajar (praktik) bahasa.
Dalam pelaksanaan
pembelajaran dengan metode ini guru memainkan tiga peran utama, sebagai berikut
:
1.
Guru sebagai sumber utama penyedia comprehensible
input dalam bahasa sasaran. Guru diharuskan bisa menyediakan waktu yang
banyak untuk memberikan input bahasa dengan berbagai macam bantuan seperti
isyarat – isyarat sehingga anak bisa menafsirkan input yang diberikan.
2.
Guru berperan sebagai pencipta suasana kelompok
yang menarik dan santai serta ramah sehingga akan meminimalkan terjadinya
affective filter dalam belajar. Untuk
meminimalkan terjadinya affective filter
ini, guru tidak memaksa anak untuk berbicara di dalam kelompok sebelum
mereka siap untuk berbicara;guru tidak mengoreksi kesalahan yang dibuat anak;
dan guru memberikan bahan pelajaran yang sesuai dengan minat anak.
3.
Guru berperan sebagai penanggung jawab dan pemilih,
mengumpulkan dan merancang materi pelajaran dan kegiatan kelompok yang
beraneka ragam untuk digunakan dalam kelompok Dalam memilih bahan pelajaran
tidak hanya dipilih berdasarkan persepsi guru semata akan tetapi juga harus
mempertimbangkan minat dan kebutuhan anak, disamping guru juga harus memilih
situasi atau kegiatan yang tepat untuk penyajian materi tertentu.
Sedangkan peran anak dalam
pembelajaran dengan metode natural menurut Bambang Setiadi,dkk (2004; 4.7)
dapat dilihat dari tahap – tahap sebagai berikut:
1.
Tahap pre-production, anak berpartisipasi
dalam kegiatan kelompok tanpa harus memberikan respon atau berbicara
selain bahasa asing yang dipelajari. Kegiatan seperti ini misalnya dengan cara
memperagakan atau menunjukkan perintah, ungkapan atau gambar – gambar yang diceritakan
guru.
2.
Tahap early- production , anak diberi
kesempatan untuk menjawab pertanyaan– pertanyaan sederhana yang diajukan oleh
guru. Jawaban anak terdiri dari satu kata atau satu frase pendek.
3.
Tahap speech-emergent, anak sudah terlibat
dalam kegiatan bermain peran dan permainan
·
Pengembangan
Materi
1.
Urutan
pelajaran mula- mula diberikan melalui menyimak/ mendengarkan (listening) baru kemudian percakapan (speaking), membaca (reading), menulis (writing)
terakhir baru gramatika.
2.
Pelajaran
disajikan mula- mula memperkenalkan kata- kata yang sederhana yang telah
diketahui anak didik, kemudian mempraktikan benda- benda mulai dari benda-
benda yang ada didalam kelas, dirumah dan diluar kelas, bahkan mengenal luar
negri atau Negara- Negara asing terutama Timur Tengah.
3.
Alat
peraga dan kamus yang dapat yang dapat digunakan sewaktu- waktu sangat
diperlukan, misalnya untuk menjelaskan dan mengartikan kata- kata sulit dalam
bahasa asing dan memperbanyak perbendaharaan kata- kata atau memperkaya
kosakata sebagai syarat utama menguasai bahasa asing.
4.
Oleh
karena kemampuan dan kelancaran membaca dan bercakap- cakap sangat diutamakan
dalam metode ini maka pelajaran gramatikal (tata bahasa) kurang diperhatikan.
5.
Menggunakan
beberapa pengajar secara bergantian, sehingga anak didik mendengar bunyi
kata dan kalimat dari orang yang berbeda.
Pada
tingkat lanjutan metode ini sangat efektif, karena setiap individu siswa dibawa
kedalam suasana lingkungan sesungguhnya untuk aktif mendengarkan dan
menggunakan percakapan dalam bahasa asing. Pengajaran membaca dan bercakap-
cakap dalm bahasa asing sangat diutamakan, sedangkan pelajaran gramatikal
diajarkan sewaktu- waktu saja. Pengajaran menjadi brmakna dan mudah diserap
siswa, karena setiap kata dan kalimat yang diajarkan memiliki konteks (hubungan)
dengan dunia (kehidupan sehari- hari) siswa/ anak didik.
·
Langkah-Langkah
kegiatannya
Metode
alamiah muncul dengan maksud mengembangkan kemampuan dasar dalam berkomunikasi.
Langkah-langkah pembelajaran puisi pada metode ini adalah sebagai berikut,
1.
Apersepsi
Pada tahap ini, siswa mengungkapkan
pengetahuaanya tentang lafal, nada, tekanan, dan intonasi pada sebuah puisi.
2.
Eksplorasi
Pada tahap ini, guru menyampaikan
tujuan pembelajaran kepada peserta didik apa yang harus dicapai.
3.
Elabolasi
Pada tahap
elaborasi, siswa akan mendapatkan
contoh puisi serta mengeksplorasi dari hasil membaca puisi. Siswa dibentuk menjadi beberapa
kelompok untuk memahami dan mendiskusiakannya. Setiap perwakilan kelompok
membacakan puisi di depan, dan siswa yang lainnya memperhatikan atau menyimak
pembacaan puisi. Dalam tahap ini guru akan memberikan umpan balik
untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa.
4.
Klarifikasi
Pada tahap ini, guru menjelaskan maksud pembelajaran dan
tugas kelompok. Diskusi kelas dilakukan untuk memperoleh pembenaran materi
tentang hasil proses pembelajaran membaca.
5.
Penutup
Guru
dan siswa bersama-sama menyimpulkan hal-hal yang sulit dan yang belum
diketahui. Setelah itu guru merefleksi dan menanyakan kesulitan yang dihadapi
siswa dalam membacakan puisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar