Kamis, 04 Agustus 2016

Pertanyaan dan Jawaban Tentang Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pertanyaan dan Jawaban Tentang Pembelajaran Bahasa Indonesia
Oleh : Fitria Novita, M.Pd.
(Tia)

1.         Bagaimana mengintegrasikan struktur bahasa, kosakata, ejaan, dan tanda baca dalam pembelajaran keterampilan berbahasa terutama menulis?
       Pembelajaran masing-masing komponen tersebut terintegrasi langsung dalam pembelajaran menulis. Untuk kelas bawah, ( 1 dan 2 SD) ketika  guru mengajarkan menulis kalimat, sekaligus ia mengajarkan tentang  struktur bahasa, kosakata, ejaan, dan bagaimana cara menggunakan tanda baca , seperti titik,koma,dan tanda tanya yang tepat. Hal itu disebabkan karena kalimat itu terdiri dari gabungan beberapa buah kata yang mengandung pengertian, diawali dengan huruf kapital dan diakhiri oleh tanda baca. Siswa ditunjukkan langsung bagaimana penulisan kalimat yang tepat. Siswa dituntut menggunakan kata yang berfariasi, seperti penggunaan sinonim, antonim, dll dalam kalimat.

2.         Teknik mendengarkan yang mengandung upaya peningkatan keterampilan mendengarkan adalah:
Teknik pengajaran menyimak dapat dilakukan secara variatif, untuk menghindari kesan yang monoton dan menjadikan pembelajaran lebih menarik bagi siswa. Adapun beberapa teknik menyimak yang dapat digunakan guru dalam proses belajar mengajar di Sekolah Dasar, di antaranya adalah sebagai berikut.
a.       Teknik Ulang-Ucap (Menirukan)
Teknik ini biasa digunakan guru pada siswa yang belajar bahasa permulaan, baik belajar bahasa ibu maupun bahasa asing. Teknik ini digunakan untuk memperkenalkan bunyi bahasa dengan dengan pengucapan atau lafal yang tepat dan jelas oleh guru. Contohnya, guru mengucapkan kata-kata yang sederhana, seperti ‘mata’, kemudian guru memperjelas kata tersebut dengan cara mendemonstrasikannya. Guru menggunakan jari tangannya untuk menunjuk salah satu bagian wajahnya, yaitu mata. Langkah kedua, guru mengucapkan kata mata dengan jelas dan keras, siswa diminta menyimaknya dengan baik, kemudian menirukan apa yang diucapkan guru. Langkah ketiga, guru memberikan latihan ekstensif dengan mengulang kata-kata yang sudah dikenalkan, kemudian menambah kosa kata serta mengenalkan struktur kalimat kepada siswa sampai siswa dapat mengucapkan kata-kata dengan tepat, dan akhirnya menggunakan kata itu dalam struktur yang sederhana.

b.      Teknik Informasi Beranting
Guru memberi informasi kepada salah seorang siswa kemudian informasi tersebut disampaikan kepada siswa di dekatnya, begitu seterusnya. Informasi disampaikan secara beranting. Siswa yang menerima informasi terakhir, mengucapkan keras-keras informasi tersebut di hadapan teman-temannya. Dengan demikian, kita tahu apakah informasi itu tetap sama dengan sumber pertama atau tidak. Jika tetap sama, berarti daya simak siswa sudah cukup baik, akan tetapi, bila informasi pertama berubah setelah beranting, ini berarti daya simak siswa masih kurang. Contoh kalimatnya,  Andi membeli mie bersama Rani tadi pagi.

c.       Teknik Satu Mulut Satu Kelas
Guru membacakan sebuah wacana yang dapat berupa artikel atau cerita di hadapan siswa, dan siswa diminta menyimak baik-baik. Sebelum siswa menyimak, guru memberi penjelasan tentang apa-apa yang pernah disimak. Setelah guru selesai membacakan, guru dapat meminta siswa, misalnya:
§    menceritakan kembali isi materi yang disimaknya;
§   menyebutkan urutan ide pokok dari apa yang disimak;
§   menyebutkan tokoh atau pelaku cerita dari apa yang disimaknya;
§   menemukan makna yang tersurat dari apa yang disimaknya;
§   menemukan makna yang tersirat dari apa yang disimaknya;
§   menilai isi dari apa yang disimaknya.

Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru kepada siswa tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan yang telah dirumuskan. Dalam penggunaan teknik ini, guru dituntut untuk dapat membaca dengan baik sesuai dengan jenis wacana yang dibacanya. Oleh karena itu, guru perlu menyiapkan benar-benar bahan bacaan dan cara membacanya, jangan sampai siswa mengalami kesulitan memahami isi yang disimaknya hanya karena pembacaan yang kurang siap.
d.      Teknik Satu Rekaman Satu Kelas
Guru terlebih dahulu menyiapkan rekaman melalui kaset (tape recorder), CD, ataupun laptop yang berisi ceramah, pembacaan puisi, pidato, cerita/dongeng, drama, dan sebagainya. Kemudian guru memberi petunjuk-petunjuk sebelum kaset diputar tentang hal-hal yang perlu disimak. Setelah itu guru memutar rekaman yang telah disiapkan sebelumnya (dongeng, misalnya). Siswa diminta menyimak baik-baik. Rekaman dapat diputar ulang bila siswa belum dapat mengikuti tentang apa yang diputar. Kemudian siswa diberikan tugas menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk menguji pemahamannya terhadap rekaman yang disimaknya, seperti:
§  Apa tema dari dongeng yang kamu simak?
§  Siapa yang menjadi tokoh dalam dongeng tersebut?
§  Bagaimana watak dari tokoh tersebut?
§  Sebutkan amanat yang terdapat dalam dongeng tersebut!
§  dan lain-lain.

e.       Teknik Group Cloze
Dalam penggunaan teknik ini, guru membacakan satu kali sebuah wacana, siswa diminta menyimak baik-baik. Kemudian, guru membacakan lagi wacana tersebut dengan  cara membaca penuh awal paragraf, sedangkan paragraf berikutnya ada beberapa kata atau kelompok kata yang dihilangkan. Setelah itu, tugas siswa adalah memikirkan konteks wacana dan mengisi tempat yang kosong dengan kata-kata atau peristilahan atau kelompok kata yang asli dari wacana yang dibacakan sebelumnya.

f.       Teknik Parafrase
Dalam penggunaan teknik ini, guru terlebih dahulu menyiapkan sebuah puisi untuk disimak oleh siswa. Setelah itu, guru membacakan puisi yang telah disiapkan dengan jelas. Kemudian setelah siswa selesai menyimak, siswa secara bergiliran disuruh menceritakan kembali isi puisi yang telah disimaknya dengan kata-kata sendiri. Dalam menerapkan teknik ini, guru harus menyesuaikan dengan perkembangan kebahasaan siswa, agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan sesuai tujuan.

g.      Teknik Simak Libat Cakap
Sesuai dengan nama teknik ini, penyimak terlibat dalam pembicaraan. Dalam pelaksanaan teknik ini guru dapat menugaskan siswa mengadakan wawancara, misalnya dengan guru wali, guru pengajar bahasa Bali, budayawan. Sebelum mengadakan wawancara, siswa diminta menyiapkan apa yang perlu ditanyakan kepada orang yang diwawancarai. Tugas selanjutnya siswa menyusun hasil wawancara yang kemudian diserahkan kepada guru untuk teliti.

h.      Teknik Simak Bebas Libat Cakap
Teknik ini senada dengan teknik simak libat cakap yang mementingkan keterlibatan penyimak dalam pembicaraan. Penyimak di sini hanya berlaku sebagai pemerhati yang penuh minat, tekun menyimak apa yang disampaikan oleh pembicara sehingga penyimak dapat memahami isi pembicaraan, tujuan pembicaraan, menganalisis apa yang dibicarakan, serta akhirnya menilai isi pembicaraan.

Kedelapan teknik menyimak di atas bisa digunakan guru untuk meningkatkan kemampuan menyimak siswa. Penggunaan teknik tersebut harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Guru harus jeli dan terampil dalam menggunakan teknik pembelajaran agar hasil pembelajaran maksimal.
Aspek menyimak yang dapat meningkatkan kemampuan menyimak siswa adalah;
1.      Guru mempersiapkan siswa untuk fokus mendengarkan.
2.      Siswa membuat catatan-catatan kecil sehubungan dengan teks yang akan dibacakan guru.
3.      Siswa mendiskusikan/mengaitkannya dengan pengalaman.

3.         Perancah atau Scaffolding
    Teori Vygotsky menyatakan bahwa setiap siswa mempunyai daerah yang
membatasi tahap perkembangannya. Dengan memberikan rangsangan berupa tugas
yang berada di luar daerah perkembangannya, maka siswa akan merasa tertantang
untuk menyelesaikan tugas tersebut sehingga perkembangannya akan bertambah.
Daerah yang berada sedikit di atas perkembangan siswa tersebut disebut Zone of
Proximal Development (ZPD)
. Ide penting lain yang diturunkan dari teori Vygotsky
adalah scaffolding.
Scaffolding diartikan ke dalam bahasa Indonesia “perancah”, yaitu bambu (balok dsb) yang dipasang untuk tumpuan ketika hendak mendirikan rumah, membuat tembok, dan sebagainya (Poerwadarminta, 1983; 735).
     Perancah (scaffolding) dalam konteks pembelajaran berarti bimbingan yang diberikan oleh seorang pembelajar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran dengan persoalan-persoalan terfokus dan interaksi yang bersifat positif. Prinsip-prinsip konstruktivis sosial dengan pendekatan scaffolding yang diterapkan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
a.       Pengetahuan dibangun oleh peserta didik sendiri.
b.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari pembelajar ke peserta didik, kecuali hanya dengan keaktifan peserta didik sendiri untuk menalar.
c.       Peserta didik aktif mengkontruksi secara terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
d.      Pembelajar sekedar memberi bantuan dan menyediakan saran serta situasi agar proses kontruksi belajar lancar.
e.       Menghadapi masalah yang relevan dengan peserta didik.
f.       Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
g.      Mencari dan menilai pendapat peserta didik.
h.      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan peserta didik.

Berdasarkan fakta yang saya temui di lapangan, tidak ada scaffold yang tersedia di dalam ruang kelas, namun sebagai guru, kita harus menyediakan alat peraga atau media dalam mengajar. Sesuai dengan kondisi sekolah pada saat ini scaffolds yang mungkin dibuat adalah tabel sinonim atau antonim, contoh surat resmi dan tidak resmi, contoh puisi, pidato, dan lain-lain. Merancang scaffolds sebaiknya disesuaikan dengan SK dan KD yang akan diajarkan pada semester yang akan berjalan. Menurut saya, scaffolds yang perlu dibangun adalah daftar kosakata, lemari kecil yang berisi bahan bacaan sastra, nonfiksi, dan bacaan umum.



4.         Aspek pengelolaan kelas yang sangat penting dikuasai oleh seorang pendidik adalah:
     Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Sebaliknya, masalah pengelolaan berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pembelajaran. Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai dalam rangka proses pembelajaran. Karena itu  setiap guru dituntut memiliki kemampuan dalam mengelola kelas.
Pengelolaan kelas akan mempengaruhi pengelolaan pengajaran. Pengelolaan yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif. Pengelolaan kelas menunjuk kepada pengaturan orang (terutama peserta didik) maupun pengaturan fasilitas. Seperti membina hubungan baik antara guru dan siswa dan antara siswa dengan siswa, ventilasi ,penerangan ,tempat duduk, perencanaan program belajar mengajar yang tepat. Dalam melaksanakan pengelolaan kelas guru harus melaksanakan prinsip- prinsip pengelolaan kelas yaitu : kehangaan dan keantusiasan ,tantangan , bervariasi, keluwesan ,penekanan pada hal-hal yang positif dan penanaman disiplin diri .
Manajemen kelas harus dilakukan oleh guru guna memberikan dukungan terhadap keberhasilan belajar anak. Keberhasilan dalam pembelajaran akan ditentukan oleh seberapa mampu guru dalam memfasilitasi anak dengan kegiatan manajerial terhadap kelas, keberhasilan dalam memanage kelas yang dilakukan guru harus melihat aspek dalam kelas. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas yang baik adalah meliputi:
1.       sifat kelas,
2.      pendorong kekuatan kelas,
3.      situasi kelas,
4.      tindakan efektif dan kreatif.



5.         Metode inovatif dalam pembelajaran bahasa, antara lain:
a.      MetodeLangsung atau Direct Method
·         Konsep Dasarnya
Direct artinya langsung. Direct Method atau metode langsung yaitu suatu cara menyajikan materi pelajaran bahasa asing dimana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikitpun dalam mengajar. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemonstrasikan, menggambarkan dan lain-lain.
Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu pasti, alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat menghafal rumus-rumus tertentu, berpikir dan mengingat, maka dalam pengajaran bahasa, siswa dilatih praktik langsung mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Sekalipun kata-kata atau kalimat-kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami siswa, namun sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula mengartikannya.
Ciri-ciri metode ini adalah :
1.         Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat.
2.         Gramatika diajarkan hanya bersifat sambil lalu, dan siswa tidak dituntut menghafal rumus-rumus gramatika, tapi yang utama adalah siswa mampu mengucapkan bahasa secara baik.
3.         Dalam proses pengajaran senantiasa menggunakan alat bantu (alat peraga) baik berupa alat peraga langsung, tidak langsung (benda tiruan) maupun peragaan melalui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu.
4.         Setelah masuk kelas, siswa  dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa asing, dan dilarang menggunakan bahasa lain.

·         Peranan Pendidik dan Peserta Didik
   Meskipun guru mengarahkan aktivitas di kelas, peran siswa lebih aktif dibandingkan peran mereka dalam metode tata bahasa terjemah. Dalam metode ini, guru dan siswa seperti mitra dalam pembelajaran, di samping berfungsi sebagai  seorang mitra, guru juga adalah seorang fasilitator, ia menunjukkan kepada para siswa apa kesalahan yang mereka lakukan dan bagaimana cara mengoreksi kesalahan tersebut.
    Interaksi kelas pembelajaran berasal dari kedua belah pihak, dari guru kepada para siswa dan sebaliknya, dari siswa kepada guru, meskipun inisiasi dari siswa sering berada dalam pengarahan guru. Para siswa juga berbicara antara yang satu dengan yang lain.
    Evaluasi dalam metode langsung dilakukan lebih banyak secara informal, para siswa diminta untuk menggunakan bahasa, bukan untuk menunjukkan pengetahuan mereka sekitar bahasa. Mereka diminta untuk melakukannya baik dengan keterampilan lisan maupun tulisan. Sebagai contoh, para siswa bisa jadi diwawancarai secara lisan oleh guru atau boleh jadi diminta untuk menulis suatu alinia tentang sesuatu yang sudah mereka pelajari.

·         Pengembangan Materi
Dalam metode langsung penggunaan bahasa ibu sangat dihindari. Oleh karena itu, materi disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan guru melakukan paragaan dan penunjukan langsung benda asli, gambar atau model (tiruan benda) ketika mengenalkan  struktur kalimat yang baru. Metode langsung ini turut mempersiapkan pengetahuan bahasa yang bermanfaat dalam ujaran dalam konteks.

·         Langkah-Langkah Kegiatan
Langkah-langkah penyajian dalam metode ini bisa bervariasi, namun secara umum adalah sebagai berikut:
1.      Guru memulai penyajian materi secara lisan, mengucapkan satu kata dengan menunjuk bendanya atau gambar benda itu, meragakan sebuah gerakan atau mimik wajah. Pelajar menirukan berkali-kali sampai benar pelafalannya dan faham maknanya.
2.      Latihan berikutnya berupa tanya jawab dengan kata tanya apa, siapa, mengapa, dan sebagainya, sesuai dengan tingkat kesulitan pelajaran, berkaitan dengan kata-kata yang telah disajikan. Model interaksi bervariasi, biasanya dimulai dengan klasikal, kemudian berkelompok dan akhirnya individual, baik guru maupun siswa.
3.      Setelah guru yakin bahwa siswa menguasai materi yang disajikan, baik dalam pelafalan maupun pemahaman makna, siswa diminta membuka buku teks. Guru memberikan contoh bacaan yang benar kemudian siswa diminta membaca secara bergantian.
4.      Kegiatan berikutnya adalah menjawab secara lisan pertanyaan atau latihan yang ada dalam buku, dilanjutkan dengan mengerjakannya secara tertulis.
5.      Bacaaan umum yang sesuai dengan tingkatan siswa diberikan sebagai tambahan, misalnya berupa cerita humor, cerita yang mengandung hikmah, dan bacaan yang mengandung ungkapan-ungkapan indah. Karena pendek dan menarik, biasanya siswa menghafanya di luar kepala.
6.      Tatabahasa diberikan pada tingkat tertentu secara induktif.
7.      Siswa didorong untuk berani berbicara, tidak perlu takut salah.

b.      Metode Audiolingual
·         konsep dasarnya:
Metode ini didasarkan pada prinsip-prinsip perilaku psikologi.  Metode ini banyak diadaptasi dari prosedur Direct Method sebagai reaksi terhadap kurangnya keterampilan berbahasa. Materi baru disajikan dalam bentuk dialog. Berdasarkan prinsip bahwa pembelajaran bahasa adalah suatu bentuk kebiasaan dan peniruan.
Alur pembelajaran dengan “Metode Audiolingual,” secara bertahap  menggunakan pola latihan berulang atau repetitif drills, sedikit penjelasan tentang tatabahasa (tata bahasa diajarkan secara induktif).
Urutan keterampilan berbahasa yang diajarkan adalah mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Kosakata sederhana dipelajari dalam suatu konteks. Poin pengajaran ditentukan oleh adanya analisis antara B1 dan B2. Terdapat banyak penggunaan laboratorium bahasa, kaset dan alat. Ada perpanjangan periode pra-membaca di awal pelatihan. Sangat mementingkan pronounsiasi. Penggunaan bahasa ibu oleh pengajar diperbolehkan agar memudahkan pembelajar. Ketepatan tanggapan pembelajar sangat diperhatikan untuk menghindari kesalahan. Ada kecenderungan untuk terlalu berfokus pada bahasa target dengan mengabaikan isi dan makna kebahasaan.
Istilah audio-lingualisme pertama-tama dikemukakan oleh Prof. Nelson Brooks pada tahun 1964. Metode ini mengklaim sebagai metode yang paling efektif dan efisien dalam pembelajaran bahasa asing dan menyatakan sebagai metode yang telah mengubah pengajaran bahasa dari hanya sebuah metode keilmuan bahasa. Audio-Lingual Method (ALM) merupakan hasil kombinasi pandangan dan prinsip-prinsip Linguistik Struktural, Analisis Kontrastif, pendekatan Aural-Oral, dan psikologi Behavioristik. Dasar pemikiran ALM mengenai bahasa, pengajaran, dan pembelajaran bahasa adalah sebagai berikut:
1.        Bahasa adalah lisan, bukan tulisan
2.        Bahasa adalah seperangkat kebiasaan
3.        Ajarkan bahasa dan bukan tentang bahasa
4.        Bahasa adalah seperti yang diucapkan oleh penutur asli
5.        Bahasa satu dengan yang lainnya itu berbeda

·         Peranan Pendidik dan Peserta Didik
Peran guru sangat dominan karena gurulah yang memilih bentuk stimulus, memberikan punishment dan reward, memberikan penguatan dan menentukan jenisnya, dan guru juga yang memilih materi, dan cara mengajarkannya. Pengucapan (pronunciation), susunan serta aspek-aspek lain antara bahasa asing dan bahasa ibu sangatlah berbeda. Oleh karenanya, dalam pembelajaran bahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris) para siswa diharuskan mengucapkan dan atau membaca berulang-ulang kata demi kata yang diberikan oleh guru agar sebisa mungkin tidak terpengaruh dengan bahasa ibu. Adapun peranan guru dan murid dalam metode ini adalah :
Kegiatan Guru.
1.      Menjadi model pada semua tahapan  pembelajaran.
2.      Menggunakan bahasa target sebanyak mungkin dan bahasa ibu sedikit mungkin.
3.      Melatih ketrampilan menyimak dan berbicara siswa tanpa didahului bahasa tulis.
4.      Mengajarkan struktur melalui latihan pola bunyi, urutan, bentuk-bentuk, dan bukan melalui penjelasan.
5.      Memberikan bentuk-bentuk tulis bahasa target setelah bunyi-bunyi benar-benar dikuasai siswa.
6.      Meminimalkan pemberian kosakata kepada siswa sebelum semua struktur umum dikuasai.
7.      Mengajarkan kosakata dalam konteks.
Kegiatan Siswa
1.      Mendengarkan sebuah percakapan sebagai model (guru atau kaset) yang berisi struktur kunci yang menjadi fokus pembelajaran, mereka mengulangi setiap baris percakapan tersebut secara individu maupun bersama-sama, menghafalkannya dan      siswa tidak melihat buku.
2.      Mengganti dialog dengan setting tempat atau yang lainnya sesuai dengan selera  siswa.
3.      Berlatih struktur kunci dari percakapan secara bersama-sama dan kemudian secara  individual.
4.      Mengacu ke buku teks dan menindaklanjuti dengan kegiatan membaca, menulis atau kosakata yang berdasarkan percakapan yang ada, menulis dimulai dalam  bentuk  kegiatan menyalin.

·         Pengembangan Materinya
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya metode ini memberikan perhatian utama kepada kegiatan latihan, drill, menghafal kosa kata, dialog, teks bacaan, dan pada sisi lain lebih mengutamakan bentuk luar bahasa (pola, struktur, kaidah) dari pada kandungan isinya, dan mengutamakan kesahihan dan akurasi dari kemampuan siswa untuk berinteraksi dan berkomunikasi.
Penerapan metode ini hampir sama dengan penerapan pengajaran bahasa pertama pada anak-anak, anak-anak menguasai bahasa ibunya melalui peniruan. Peniruan itu biasanya diikuti oleh pujian atau perbaikan. Melalui kegiatan itulah anak-anak mengembangkan pengetahuannya mengenai struktur, pola kebiasaan bahasa ibunya. Maka hal yang sama juga dapat diberlakukan dalam pengajaran bahasa kedua atau bahasa asing. Melalui cara peniruan dan penguatan, para siswa mengidentifikasi hubungan antara stimulus dan responsi yang merupakan kebiasaan dalam berbahasa kedua atau bahasa asing.

·         Langkah-Langkah Kegiatannya:
1.      Penyajian teks dialog atau teks pendek yang dibacakan guru berulang-ulang dan siswa menyimak tanpa melihat teks yang dibaca.
2.      Peniruan dan penghafalan teks itu secara serentak dan siswa menghafalkannya.
3.      Penyajian kalimat dilatih dengan pengulangan.
4.      Dramatisasi dialog atau teks yang dilatihkan kemudian siswa memperagakan di depan kelas.
5.      Pembentukan kalimat lain yang sesuai dengan yang dilatihkan.

c.       Natural Method atau Metode Alamiah
·         Konsep Dasarnya
Metode Alamiah (Natural Method) disebut demikian karena dalam proses belajar, siswa dibawa ke alam seperti halnya pelajaran bahasa ibu sendiri. Dalam pelaksanakannya, metode ini tidak jauh berbeda dengan metode lengsung (direct) dimana guru menyajikan materi pelajaran langsung dalam bahasa asing tanpa diterjemahkan sedikitpun, kecuali dalam hal- hal tertentu di mana kamus dan bahasa anak didik dapat digunakan.
·         Peranan Pendidik dan Peserta Didik
    Pada umumnya, anak didik dan guru bersikap tradisional mengutamakan gramatika lebih dahulu daripada membaca dan percakapan sesuatu hal yang salah secara ilmiah yang amat perlu diubah. Guru yang kurang memiliki kemampuan dan pengalaman praktis dalam berbahasa asing merupakan faktor sulitnya diterapkan dan berhasil secara baik metode tersebut. Guru haruslah seorang yang aktif berbicara di dalam bahasa asing tersebut barulah murid- muridnya akan mampu pula aktif di dalam belajar (praktik) bahasa.

Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini guru memainkan tiga peran utama, sebagai berikut :
1.         Guru sebagai sumber utama penyedia comprehensible input dalam bahasa sasaran. Guru diharuskan bisa menyediakan waktu yang banyak untuk memberikan input bahasa dengan berbagai macam bantuan seperti isyarat – isyarat sehingga anak bisa menafsirkan input yang diberikan.
2.         Guru berperan sebagai pencipta suasana kelompok  yang menarik dan santai serta ramah sehingga akan meminimalkan terjadinya affective filter dalam belajar. Untuk meminimalkan terjadinya affective filter ini, guru tidak memaksa anak untuk berbicara di dalam kelompok  sebelum mereka siap untuk berbicara;guru tidak mengoreksi kesalahan yang dibuat anak; dan guru memberikan bahan pelajaran yang sesuai dengan minat anak.
3.         Guru berperan sebagai penanggung jawab dan pemilih, mengumpulkan dan merancang materi pelajaran dan kegiatan kelompok  yang beraneka ragam untuk digunakan dalam kelompok Dalam memilih bahan pelajaran tidak hanya dipilih berdasarkan persepsi guru semata akan tetapi juga harus mempertimbangkan minat dan kebutuhan anak, disamping guru juga harus memilih situasi atau kegiatan yang tepat untuk penyajian materi tertentu.

Sedangkan peran anak dalam pembelajaran dengan metode natural menurut Bambang Setiadi,dkk (2004; 4.7) dapat dilihat dari tahap – tahap sebagai berikut:
1.         Tahap pre-production, anak berpartisipasi dalam kegiatan kelompok  tanpa harus memberikan respon atau berbicara selain bahasa asing yang dipelajari. Kegiatan seperti ini misalnya dengan cara memperagakan atau menunjukkan perintah, ungkapan atau gambar – gambar yang diceritakan guru.
2.         Tahap early- production , anak diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan– pertanyaan sederhana yang diajukan oleh guru. Jawaban anak terdiri dari satu kata atau satu frase pendek.
3.         Tahap speech-emergent, anak sudah terlibat dalam kegiatan bermain peran dan permainan

·         Pengembangan Materi
1.         Urutan pelajaran mula- mula diberikan melalui menyimak/ mendengarkan (listening) baru kemudian percakapan (speaking), membaca (reading), menulis (writing) terakhir baru gramatika.
2.         Pelajaran disajikan mula- mula memperkenalkan kata- kata yang sederhana yang telah diketahui anak didik, kemudian mempraktikan benda- benda mulai dari benda- benda yang ada didalam kelas, dirumah dan diluar kelas, bahkan mengenal luar negri atau Negara- Negara asing terutama Timur Tengah.
3.         Alat peraga dan kamus yang dapat yang dapat digunakan sewaktu- waktu sangat diperlukan, misalnya untuk menjelaskan dan mengartikan kata- kata sulit dalam bahasa asing dan memperbanyak perbendaharaan kata- kata atau memperkaya kosakata sebagai syarat utama menguasai bahasa asing.
4.         Oleh karena kemampuan dan kelancaran membaca dan bercakap- cakap sangat diutamakan dalam metode ini maka pelajaran gramatikal (tata bahasa) kurang diperhatikan.
5.         Menggunakan beberapa pengajar secara bergantian, sehingga anak didik mendengar bunyi kata dan kalimat dari orang yang berbeda.

Pada tingkat lanjutan metode ini sangat efektif, karena setiap individu siswa dibawa kedalam suasana lingkungan sesungguhnya untuk aktif mendengarkan dan menggunakan percakapan dalam bahasa asing. Pengajaran membaca dan bercakap- cakap dalm bahasa asing sangat diutamakan, sedangkan pelajaran gramatikal diajarkan sewaktu- waktu saja. Pengajaran menjadi brmakna dan mudah diserap siswa, karena setiap kata dan kalimat yang diajarkan memiliki konteks (hubungan) dengan dunia (kehidupan sehari- hari) siswa/ anak didik.

·         Langkah-Langkah kegiatannya
Metode alamiah muncul dengan maksud mengembangkan kemampuan dasar dalam berkomunikasi. Langkah-langkah pembelajaran puisi pada metode ini  adalah sebagai berikut,

1.         Apersepsi
Pada tahap ini, siswa mengungkapkan pengetahuaanya tentang lafal, nada, tekanan, dan intonasi pada sebuah puisi.
2.         Eksplorasi
Pada tahap ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada peserta didik apa yang harus dicapai.
3.         Elabolasi
Pada tahap elaborasi, siswa akan mendapatkan contoh puisi serta mengeksplorasi dari hasil membaca puisi. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok untuk memahami dan mendiskusiakannya. Setiap perwakilan kelompok membacakan puisi di depan, dan siswa yang lainnya memperhatikan atau menyimak pembacaan puisi. Dalam tahap ini guru akan memberikan umpan balik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa.
4.         Klarifikasi
Pada tahap ini, guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok. Diskusi kelas dilakukan untuk memperoleh pembenaran materi tentang hasil proses pembelajaran membaca.
5.         Penutup
Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hal-hal yang sulit dan yang belum diketahui. Setelah itu guru merefleksi dan menanyakan kesulitan yang dihadapi siswa dalam membacakan puisi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar