BAB
I
SASTRA
MELAYU KLASIK
I.
Pengertian
Yang dimaksud dengan sastra melayu klasik adalah sastra yang hidup dan
berkembang di daerah Melayu pada masa sebelum dan sesudah Islam hingga
mendekati masa balai pustaka. Pada masa kesustraan Indonesia
klasik, kesusastraan Indonesia diwarnai oleh kesusastraan masa purba, masa
pengaruh hindu, dan pengaruh islam.
Karya yang tergolong kepada sastra klasik , yakni prosa, puisi lama, dan
drama. (Agni, 2008:13) menjelaskan bahwa karya sastra klasik atau disebut juga sastra “melayu lama” pertama kali
dihasilkan sebelum abad 20, atau sekitar 1870-an tepatnya. Pada era ini karya
sastra yang dihasilkan kebanyakan masih berupa syair, hikayat, dan novel yang
berupa terjemahan dari Barat. Seperti yang tertulis di Fiksi
Lotus, Cerita klasik adalah cerita yang tak kenal batasan waktu. Ia bisa
dinikmati sekarang atau seribu tahun dari sekarang. Isinya selalu relevan
terlepas dari siapa yang membacanya atau di mana cerita itu diterbitkan. Dan
secara keseluruhan cerita tersebut mampu memberikan nilai resonansi yang kuat
bagi para pembacanya. Selain itu, kata ‘klasik’ tidak melulu mengacu pada umur
sebuah karya. Cerita klasik bisa ditulis seratus tahun yang lalu, atau kemarin.
II.
Karakteristik
Karya sastra Melayu klasik merupakan cerminan karya sastra
masyarakat lama yang berkembang dengan bahasa Melayu sampai abad ke-18. Sebagai
cerminan masyarakat lama, karya sastra Melayu klasik, memiliki karakteristik,
antara lain sebagai berikut : (1) Penyebarannya dilakukan secara lisan (oral),
dari mulut ke mulut, (2) Pengembangannya statis, perlahan-lahan, serta
terbatas kepada kelompok-kelompok tertentu, (3) Pengarang umumnya tidak
diketahui (anonim), (4) Berkembang dalam banyak versi akibat cara penyebarannya
yang disampaikan secara lisan, (5) Ditandai ungkapan-ungkapan klise
(formulazired). Misalnya, menggambarkan kecantikan seorang putri dengan
ungkapan seperti bulan empat belas, menggambarkan kemarahan seorang tokoh
dengan ungkapan seperti ulat berbelit-belit, (6) Berfungsi kolektif yaitu
sebagai media pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan
terpendam, (7) Bersifat prologis, yakni mempunyai lokasi tersendiri yang tidak
sesuai dengan logika umum, (8) Merupakan milik bersama dari kolektif tertentu,
(9) Bersifat statis, artinya jumlah karya Melayu klasik tidak mengalami
perkembangan, (10) Bersifat istana sentris, artinya bercerita tentang para
bangsawan, dan dewa-dewa dan fantastik, (11) Cenderung dipengaruhi budaya Arab
(Islam) dan Hindu. Satra Melayu klasik merupakan cerminan masyarakat lama.
Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam karya itu adalah cerminan kondisi
masyarakat lama saat itu.
Ada nilai-nilai yang sering dimunculkan dalam sastra lama,
antara lain (1) Nilai religius, yaitu nilai kepercayaan kepada Sang Maha Pencipta,
(2) Nilai sosial, yaitu nilai yang mencerminkan norma-norma berinteraksi
terhadap sesama, (3) Nilai moral (etika), yaitu nilai yang berkaitan
dengan norma baik dan buruk yang berlaku dalam masyarakat, (4) Nilai
estetis, yaitu nilai keindahan yang terungkap dalam bersastra, (5) Nilai
budaya, yaitu nilai yang berkaitan dengan adat-istiadat dan kebiasaan
yang berlaku dalam masyarakat tertentu.
III.
Penggolongan
Sastra Melayu Klasik
Menurut Nursito (2000:26), sastra Melayu Klasik tidak dapat
digolongkan berdasarkan jangka waktu tertentu karena hasil karyanya tidak
memperlihatkan waktu. Semua karya berupa milik bersama. Karena itu,
penggolongan biasanya berdasarkan atas : bentuk, isi, dan pengaruh asing.
Berdasarkan bentuknya, karya sastra melayu klasik dapat digolongkan
menjadi enam jenis. Keenam jenis tersebut adalah Nursito (2000:28):
1.
Gurindam, contohnya
:
Pabila banyak mencela orang
Itulaah tanda dirinya kurang
2.
Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan
tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang
kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian
serta mukjizat tokoh utama. Salah satu hikayat yang populer di Riau adalah Yong
Dolah.
3.
pantun
Kayu cendana diatas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
4.
Syair
Nursito,
(2000:21), mengungkapkan bahwa syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk
terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama
aaaa, keempat barisnya berturut-turut mempunyai hubungan logis. Syair berasal
dari Arab.Penyair yang
terkenal dalam Sastra Melayu lama ialah Hamzah Fanzuri yang terkenal
dengan syairnya yang berjudul ”Syair Perahu” yang mengandung mistik. Cerita
berbentuk syair yang tertua ialah “Syair Ken Tambuhan” yang berasal dari cerita
Panji. Contoh Syair: Syair Bidasari.
5.
Bidal
Bidal
adalah jenis puisi lama berbentuk pepatah yang mengandung nasehat, peringatan
dan sindiran. Susunan kata pada bidal tidak dapat diubah. bidal
digunakan untuk menyampaikan sesuatu secara tersamar, atau dengan
jalan yang sehalus-halusnya. Jenis-jenis bidal adalah peribahasa, pepatah,
perumpamaan, tamzil, ibarat, dan pameo.
6.
Mantra
Mantra, yaitu jenis puisi lama berupa bacaan atau
perkataan dan mendatangkan daya magis (kekuatan gaib). Mantra termasuk jenis karya sastra lisan.
Biaasanya digunakan untuk keperluan penyembuhan, mendatangkan kebinasaan,
mengusir roh jahat, dan menumbuhkan keberanian.
BAB
II
SASTRA
DAERAH
I.
PENGERTIAN
Sastra
Daerah adalah sastra yang menggunakan media bahasa daerah dan mencerminkan
budaya daerah. Menurut Djamaris Edwar (1994:15) dalam kedudukanya sebagai
sastra daerah, sastra nusantara mencerminkan suatu nilai budaya yang dianut
atau yang diemban oleh pendukung bahasa daerah tersebut.
II.
KARAKTERISTIK
Adapun ciri-ciri karya sastra daerah adalah, (1) Penyebaran dari mulut ke mulut, (2) Lahir di
dalam masyarakat yang masih bercorak desa atau belum mengenal huruf, (3) Menggambarkan
ciri budaya suatau masyarakat, (4) Tidak deketahui siapa pengarangnya, (4) Bercorak
puitis,teratur dan berulang-ulang, (5) Tidak mementingkan fakta dan kebenaran,
(6) Terdiri dari beberapa versi, (7) Umumnya menggunakan bahasa lisan ( sehari – hari),mengandung dialek,
bahkan kadang – kadang diucapkan tidak lengkap (Hutomo, 1991 : 3-4).
III.
PENGGOLONGAN
SASTRA DAERAH
Kekayaan akan sastra daerah itu juga bukan hanya
ditandai dengan banyaknya nama, jenis dan bentuk sastra itu, melainkan juga
ditandai oleh keberagaman isi kandungan makna disetiap sastra daerah.
keberagaman isi meliputi, nilai-nilai budaya yang sampai sekarang dirasakan
tingkat urgensinya masih tinggi, seperti nilai cinta kasih, tanggung
jawab dan pengabdian serta gotong royong. Disamping berisi mengenai pandangan
hidup, sistem kepercayaan dan ajaran moral juga terkandung di dalamnya.
Adapun
contoh sastra daerah dari Sumatra, antara lain ( 1) Si Mugan, Asal Usul
Gajah Putih, Amat Rhang Manyang dan
Pawang Rusa dengan Jasanya dari Aceh, (2) Puisi Andung-Andung, Tonggo-Tonggo,
Tabas, dan Umpasa, serta Opera Batak dari Sumatera Utara, (3) Cindua Mato, Si
Buyung Bagala Rancak di Lubuah, Kaba
Malin Deman, Hikayat Puti Balukih dari Sumatera Barat, (4) Si Lancang dan
Tokong Si Culan dari Riau, (5) Terjadi Sumur Putri, Si Pahit Lidah dari
Lampung.
IV.
PEMBAHASAN
Sastra daerah mempunyai kedudukan
sebagai berikut :
a.
Sastra daerah adalah ciptaan masyarakat pada masa
lampau atau mendahului penciptaan sastra Indonesia modern.
b.
Sastra daerah dapat dimasukkan sebagai satu aspek
budaya Indonesia yang perlu digali untuk memperkaya budaya nasional dan menjadi
alternatif kedua yang perlu di pertimbangkan dan dikembangkan selain sastra
Indonesia.
c.
Sastra daerah melekat pada jiwa, rohani,
kepercayaan, dan adat istiadat masyarakat suatu suku bangsa dan yang mereka
pakai untuk menyampaikan nilai – nilai luhur bagi generasi muda.
d.
Sastra daerah mempunyai kedudukan yang strategis
dalam kerangka pembangunan sumber daya manusia,yaitu memperkuat kepribadian
keindonesiaan yang bhineka tunggal ika.
BAB
III
SASTRA
RAKYAT
I.
PENGERTIAN
Sastra
rakyat ialah kesusastraan yang lahir dikalangan rakyat. Pada lazimnya, sastra
rakyat merujuk kepada kesusastraan rakyat dari pada masa lampau, yang telah
menjadi warisan suatu masyarakat. Sastra rakyat adalah sebagian kehidupan
budaya bagi masyarakat lama.
II.
KARAKTERISTIK
Sifat cerita
rakyat adalah, (a) Disampaikan secara lisan. Satu sifat sastra rakyat yang
utama terletak pada cara penyampaiannya. Pada lazimnya sastra rakyat
disampaikan melalui pertuturan. Ia dituturkan secara individu kepada indivdu
yang lain atau sekumpulan individu yang lain. Misalnya seorang datuk akan
menuturkan suatu cerita kepada seorang bapak, seterusnya dari seorang bapak
dituturkan kepada seorang cucu. Selain itu, ia juga disampaikan oleh seorang
yang profesional, yang kerjanya "bercerita" kepada anggota masyarakat
yang lain. Dalam masyarakat melayu, profesional ini dikenali sebagi "tok
cerita" ataupun "pawang", yang telah menghafal cerita-cerita
tertentu daripada seorang guru, untuk menyampaikan cerita dengan cara yang menarik
kepada orang kampung, untuk menghiburkan orang kampung yang berkenaan.
(b) Seringkali kali mengalami perubahan. Sastra rakyat merupakan suatu yang
dinamik, di mana ia akan mengalami pokok tambah ataupun , menurut peredaran
zaman. Kita bisa menjumpai berbagai variasi untuk suatu cerita rakyat di tempat
yang berlain. Malahan, bagi seorang tok cerita, beliau mungkin akan melakukan
perbuahan ke atas ceritanya secara spontan, saat menyampaikan cerita.
III.
PENGGOLONGAN
Cerita rakyat
adalah cerita zaman dahulu yang hidup di masyarakat dan diwariskan secara
turun-temurun atau secara lisan dan berkembang dalam masyarakat. Cerita rakyat
dibedakan menjadi,
1. Legenda
Legenda
merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap sebagai sesuatu yang benar-benar
terjadi. Contoh, Cerita Si Malin Kundang, Gunung Tangkuban Perahu, Dongeng
Banyuwangi, Dongeng Gunung Batok,Dongeng Rawa pening, dan sebagainya.
2. Sage
Sage merupakan cerita rakyat yang didasarkan peristiwa sejarah yang sudah bercampur dengan fantasi rakyat. Contoh : Hikayat Hang Tuah, Syariah Melayu, Ciungwanana, dan sebagainya.
Sage merupakan cerita rakyat yang didasarkan peristiwa sejarah yang sudah bercampur dengan fantasi rakyat. Contoh : Hikayat Hang Tuah, Syariah Melayu, Ciungwanana, dan sebagainya.
3. Mite
Mite merupakan cerita rakyat yang didasarkan peristiwa atau kejadian dikalangan rakyat yang berdasarkan pada kepercayaan lama, terutama yang berhubungan dengan dewa-dewi, roh halus, atau kekuatan gaib. Contoh : Nyi Roro Kidul, Jaka Tarub, dan sebagainya.
Mite merupakan cerita rakyat yang didasarkan peristiwa atau kejadian dikalangan rakyat yang berdasarkan pada kepercayaan lama, terutama yang berhubungan dengan dewa-dewi, roh halus, atau kekuatan gaib. Contoh : Nyi Roro Kidul, Jaka Tarub, dan sebagainya.
4. Fabel
Fabel merupakan cerita rakyat yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang. Contoh : Cerita Kancil yang Cerdik, Hikayat Kalila dan Durina, Hikayat Bayan Budiman, dan sebagainya.
Fabel merupakan cerita rakyat yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang. Contoh : Cerita Kancil yang Cerdik, Hikayat Kalila dan Durina, Hikayat Bayan Budiman, dan sebagainya.
5. Paralel
Paralel merupakan cerita rakyat yang tokohnya adalah manusia dan hewan. Contoh : Anjing yang Loba, Semut dan belalang, Hikayat mahabrata, Hikayat Ramayana, dan sebagainya.
Paralel merupakan cerita rakyat yang tokohnya adalah manusia dan hewan. Contoh : Anjing yang Loba, Semut dan belalang, Hikayat mahabrata, Hikayat Ramayana, dan sebagainya.
6. Cerita
lucu
Cerita
lucu merupakan cerita rakyat yang berisikan kisah lucu atau jenaka.Contoh :
Cerita Pak Kodok, Cerita Pak Belalang, Cerita Pak Pander, Cerita Lebai Malang
dan sebagainya.
7. Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra karya prosa lama yang isinya berupa cerita, kisah, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kepahlawanan seseorang, lengkap dengan keanehan, kekuatan/ kesaktian, dan mukjizat sang tokoh utama.
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra karya prosa lama yang isinya berupa cerita, kisah, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kepahlawanan seseorang, lengkap dengan keanehan, kekuatan/ kesaktian, dan mukjizat sang tokoh utama.
IV.
PEMBAHASAN
Dari pembahasan di atas dapat
disimpulkan bahwa cerita rakyat merupakan cerita zaman dahulu dan di wariskan
kepada masyarakat secara turun temurun. Salah satu sifat sastra
rakyat yang utama terletak pada cara penyampaiannya. Pada lazimnya sastra
rakyat disampaikan melalui pertuturan. Ia dituturkan secara individu
kepada indivdu yang lain atau sekumpulan individu yang lain. Misalnya
seorang datuk akan menuturkan suatu cerita kepada seorang bapak, seterusnya
dari seorang bapak dituturkan kepada seorang cucu. Selain itu, ia juga
disampaikan oleh seorang yang profesional, yang kerjanya "bercerita"
kepada anggota masyarakat yang lain. Dalam masyarakat melayu, profesion ini
dikenali sebagai "tok cerita" ataupun "pawang", yang telah
menghafal cerita-cerita tertentu daripada seorang guru, untuk menyampaikan
cerita dengan cara yang menarik kepada orang kampung, untuk menghibur orang
kampung yang berkenan.
By. Tia
